Kamu sehat?

Setiap detik oksigen masuk ke dalam paru-paru dan menjadi bahan pembakaran nutrisi dalam tubuh. Bayangkan jika tidak bernafas 1 detik, 2 detik, 10 detik, 5 menit, 15 menit, sanggupkah? Oksigen adalah salah satu kenikmatan gratis dari Allah. Lalu kamu masih lupa diri, menunda shalat, shalat asal-asalan, baca qur’an malah ngantuk, lebih memilih tidur dibanding tahajud. Kamu sehat?

Dalam waktu 24 jam, kita pasti butuh tidur. Bayangin kalau sehari ga tidur, dua hari, tiga hari, seminggu, bagaimana fisik kita? Lemas pasti. Ternyata rasa mengantuk juga adalah nikmat dari Allah, dan kesempatan tidur pun juga nikmat. Lalu kamu masih saja asik bergosip, berkumpul membicarakan hal yg tidak bermanfaat, begadang nonton bola sampai shalat subuh kesiangan, kamu sehat?

Tiap pagi biasanya kita rutin buang hajat. Bayangkan jika kita tidak bisa buang hajat, sehari, dua hari, seminggu, sebulan. Bagaimana jadinya kotoran dalan tubuh kita? Sekotor buang hajat pun kita butuh kuasa Allah. Hal yang sangat kecil hingga besar, karunia Allah selalu kita butuhkan. Lalu kita lebih sering lupa mengingatnya, lebih sering mengingat jadwal pertandingan bola, jadwal shopping, jadwal main, acara tv, dll.

Setiap detik kita lupa mengingat Allah, setiap detik itu pula Allah tetap memberi karunia-Nya. Setiap saat kita melakukan dosa, setiap itu pula Allah melihat, menyaksikan, tapi Allah tetap memberi karunia-Nya. Kamu masih sehat?

#H-2Ramadhan

Advertisements

Bapak Penjual Es Loder

Pernah denger Es Loder?

Jajanan yang terdiri dari puding hungkwe, biji salak, pacar cina, santan dan dicampur es batu. Rasanya? Enak pake banget.

Jajanan ini sangat sering saya dan adik beli setiap abangnya lewat depan rumah. Sejak saya masih SD sampai saya sudah lulus kuliah dan bekerja. Dari yang dulunya si bapak penjual masih memanggul dagangannya hingga sekarang pake gerobak dan mangkal di dekat stasiun bojonggede. Gayanya masih sama seperti dulu, selalu memakai bucket hat, sapu tangan di pundak, dan kemeja putih yang agak lusuh atau kaos warna abu-abu. Sama sekali tidak berubah. Yang sangat terlihat berubah adalah dulu wajahnya yang masih terlihat muda dan bugar dibanding sekarang yang sudah terlihat tua.

Beberapa hari ini, saya kangen sekali dengan bapak ini, karena saya yang sudah jarang menggunakan kereta, saya jadi jarang juga melihat bapak ini berjualan. Entah kenapa akhir-akhir ini, saya¬† kepikiran bapak ini bagaimana kabarnya sekarang. Tiba-tiba saja, saya jadi rindu dengan es lodernya. Di malam senin ini, saya jadi agak “ngebet” banget ketemu bapaknya, pengen nanya kabarnya, pengen ngobrol ama bapaknya. Bentar lagi puasa, bapaknya gimana ya?

#H-4Ramadhan

Bagaimana jika

Sebab ada suatu urusan, hari selasa yg lalu saya pergi ke kampus. Lalu kebetulannya, ternyata kuliah diliburkan krn ada ujian sbmptn. Lobi K yg biasanya diisi para mahasiswa yg mengerjakan tugas tiba2 diisi dengan pemandangan berbeda. Tiap sisi dindingnya ada banyak orang tua siswa yg duduk-duduk sambil menunggu anaknya ujian sbmptn. Sepi sekali karena memang tidak boleh berisik agar tidak menggangu ujian.

Lama tidak ke kampus dan menyaksikan kondisi ini, saya tiba2 merinding. Sepanjang jalan menyusuri lobi K saya merinding, Sepanjang jalan menuju kantin saya tambah merinding. Banyak orang tua yang menunggu dengan setia anaknya yg sedang ujian. Saya melihat harapan tinggi di wajah2 mereka. Wajah yg berharap anaknya diterima di ptn yg diharapkan. Wajah yg berharap anaknya menjadi orang sukses. Wajah orang tua yang menyayangi anaknya dan berharap masa depan terbaik untuknya.

Ngerinya, bagaimana jika harapan orang tua ini belum terlihat wujudnya?

Bagaimana jika anaknya gagal masuk ptn yg diinginkan?

Bagaimana jika orang tua merasa kecewa dengan anaknya yg belum terlihat suksesnya?

Bagaimana jika anaknya merasa gagal karena belum mampu membahagiakan orang tuanya?

Hari itu, saat saya menyaksikan wajah2 mereka. Pertanyaan diatas sempat muncul di pikaran saya. Lalu, segera saya hapus dan buang jauh2. Saya terlalu takut melanjutkannya. Saya merinding.

Semoga adik2 peserta sbmptn dan para orang tuanya selalu Allah jaga dengan keimanan terbaik, agar apapun hasilnya nanti, selalu disikapi dengan cara terbaik yg Allah ridhai. Semoga semua akan baik-baik saja, setelah hasil diumumkan. Semoga.

Aside

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi,

agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.”

(QS. 35: 29-30)

#H-10Ramadhan #PerdaganganYangPastiUntungnya

Menjaga Fokus

Ternyata ini, kehidupan pasca lulus kuliah. Ternyata ini dunia yang heterogen aktivitasnya.

Setelah lulus sekolah, akhirnya saya menyaksikan sendiri kondisi lingkungan yang beragam pola dan sifatnya, yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan sekolah dimana umumnya saya dan teman-teman memiliki kesibukan yang sama, yaitu belajar.

Ternyata ini rasanya memiliki teman yang beragam aktivitasnya, ada yang sudah menjadi wanita karir, seorang istri dan ibu muda, membangun usaha, sibuk melanjutkan S2, aktif di kegiatan sosial, atau ada pula yang senang menjelajah tempat-tempat menarik di bumi dan mengabadikannya di sosial media.

Ternyata ini rasanya berada di quarter life crisis. Saat begitu banyak persimpangan jalan didepan. Lalu timbul kebingungan harus memilih jalan mana yang baik untuk dijalani, sebab takut dengan risikonya yang belum bisa diprediksi. Akhirnya saya mengalami ini, masa dimana saya menyaksikan teman-teman yang sedang berjuang mencapai tujuannya masing-masing, lalu saya merasa tertinggal dan merasa belum berjalan kemana-mana. Perasaan ini beberapa kali hilang dan timbul selama beberapa waktu, yang puncaknya dirasakan 1-2 tahun setelah lulus kuliah. Butuh waktu yang lumayan lama bagi saya menyadari kondisi sebenarnya, bahwa saya ternyata telah kehilangan fokus.

Saya kehilangan fokus sebab terlalu banyak melihat kehidupan orang lain, tidak berhenti sampai sana, saya mulai membanding-bandingkan. Padahal jelas perbandingannya tidak apple to apple. Dia yang seperti itu dan saya yang seperti ini. Everyone is unique. Sebab keunikan yang dimiliki tiap orang, maka membandingkan hanya akan membuat lelah diri. Akhirnya saya merasakan fase ini. Fase mengembalikan fokus dan menjaga fokus.

Menetapkan fokus dan menjaga fokus ternyata begitu penting. Apalagi di masa kehidupan kritis seperti hari ini. Lalu saya jadi teringat ucapan kakak senior, katanya, “fokus ke aturan langit aja, fokus ke perintah Allah”. Kini, setiap saya mulai merasa kehilangan fokus, saya langsung berusaha mengingat perkataannya, untuk tidak perlu sibuk dengan keriuhan manusia dengan berbagai pernak-perniknya.

Fokus ke aturan langit aja, fokus ke perintah Allah.”

#H-13Ramadhan #FokuskeAllah

Praktek Kesabaran

Menurut saya, segala teori kebaikan-kebaikan yang sudah diketahui dan dipelajari oleh seseorang, tidak berarti apa-apa jika tidak ia aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pun bagi saya, mempelajari teori-teori lebih mudah ketimbang mempraktekkannya. Prakteknya ini, butuh latihan berkali-kali, butuh usaha dan doa agar Allah kuatkan.

Salah satu contohnya adalah teori tentang sabar. Mungkin beberapa orang sudah mengkhatamkan teori tentang kesabaran. Tetapi apakah dalam prakteknya, kesabaran sudah diraih?

Semisal sabar saat menghadapi seorang pengendara motor yang berjalan lambat di jalur cepat, semisal sabar saat menemui pengendara sepeda motor yang lawan arah, semisal sabar saat berkendara tiba-tiba harus mengerem mendadak karena ada pengendara didepan yang berbelok tanpa menyalakan lampu sen kanan atau kiri, semisal sabar saat melihat angkot yang ugal-ugalan, semisal sabar saat terlambat karena berpapasan dengan mobil di jalan sempit, atau semisal sabar saat ada orang yang bersandar pada tubuh kita di kereta, dll. Ahaha contoh-contoh diatas memang pengalaman pribadi si penulis yang sengaja ditulis untuk menggambarkan ujian kesabaran di jalanan. Saya sendiri seringnya masih kesulitan berlatih sabar saat menemui kondisi-kondisi diatas. Saya jadi semakin sadar bahwa menjadi sabar itu sulit, tapi tentu bukan tidak mungkin untuk didapatkan.

Saat kondisi benar-benar menguras kesabaran, saya rasa satu-satunya penyelamat adalah berusaha cepat-cepat mengingat Allah. Cepat-cepat beristighfar di lisan dan di hati. Dan setelah dipikir-pikir, sangat wajar juga bahwa Allah bersama orang-orang yang bersabar, sebab bagaimana tidak, orang yang sedang bersabar ternyata sedang berusaha keras memenuhi dirinya dengan mengingat Allah, ditengah situasi yang menguji dirinya, menguji kesabarannya. Bagaimana Allah tidak membersamainya? Padahal ada hamba-Nya yang sedang berusaha keras mengingat-Nya.

Ah jadi makin lemes dengan kondisi diri yang compang-camping dalam bersabar. Masih jauh sekali rasanya menjadi golongan yang Engkau membersamainya. Ya Rabbi, bantu kami untuk selalu mengingat-Mu, teguhkan kami dalam kesabaran, tuntun kami untuk masuk ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang bersabar.

#H-14Ramadhan

Momen untuk Menulis

Bagi saya, menulis itu membutuhkan momen, tidak bisa dipaksa.

Menulis, butuh inspirasi, bukannya berpikir keras seperti saat mengerjakan soal matematika.

Menulis tidak memulu harus di meja belajar, dengan lampu belajar, dan laptop atau buku catatan didepannya. Toh kini banyak teknologi untuk menulis. Menulis bisa dimana saja. Di stasiun, di kereta, di kamar, di taman, dimana saja, selama ada momen dalam menulisnya.

Maka menurut saya, salah satu aspek penting dalam menulis adalah menemukan momen. Menemukan cerita. Menemukan hikmah dalam dunia. Kadang kita mendapatinya dalam bentuk ide “Ah ini dia.”