Mati #1

This post was from the older blog. Posted on February 2, 2015

Aku belum pernah menyaksikan kematian seseorang dengan mataku sendiri. Aku belum pernah memiliki kerabat dekat yang meninggal dunia. Ah, mungkin itu sebabnya aku terlalu sering melupakannya. Belakangan ini aku sering mengingatnya. Akhir – akhir ini aku sering membayangkannya.

Sangat munafik bila kubilang aku mencintai-Nya tapi perasaan takut menghadapi kematian masih kurasakan. Sungguh munafik bila kusebut Yang Maha Lembut adalah yang paling kucinta tapi gemetar takut dari pencabutan nyawa masih menyelimutiku. Padahal bertemu dengan Yang Maha Pencipta adalah perjumpaan paling indah yang pernah kudengar. Padahal kehidupan dunia memang terfitrah sangat singkat layaknya jarak adzan dan shalatnya.

Kematian. Ialah kata yang membuktikan padaku bahwa kini aku masih lebih mencintai dunia daripada-Nya. Bodoh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: