Mati #2

This post was from the older blog. Posted on February 14, 2015


Kebahagiaan tidak terukur dengan jumlah materi yang dimiliki.

Kalimat yang sungguh tertanam dalam bagi manusia papa untuk terus hidup dengan semangat dan senyuman. Mirisnya, yang papa dan tak bahagia. Menyedihkannya, keangkuhan dalam kesempitan.

Mengapa tidak dihadapi dengan senyuman dan ketentraman hati. Mengapa tidak dijalani dengan prasangka baik pada-Nya. Mengapa tidak dinikmati dengan terus berikhtiar dan mendekatkan diri pada-Nya. Mengapa malah semakin membuat Dia berpotensi murka. Mengapa masih tetap angkuh dan tak tahu diri. Mengapa belum juga berfikir bahwa tiap hembusan nafas adalah kebaikan dari-Nya. Mengapa kesehatan tak disadarinya sebagai karunia dari-Nya.
Mengapa mati tak kunjung mengingatkanmu tentang tiap detik waktu yang diberikan oleh-Nya. Mengapa engkau terus mengejar bayangan yang tak mampu kau sentuh. Mengapa tiap hari aku terus berfikir hatimu telah mati.

Kematian pasti akan menyadarkan si kafir untuk bertobat. Tapi terlambat, ia telah mati.

Kematian pasti menyadarkan si pelaku maksiat untuk terus beribadah pada-Nya. Tapi terlambat, ia telah mati.

Kematian pasti menyadarkan manusia sombong untuk merunduk pada-Nya. Tapi terlambat, ia telah mati.

Kematian pasti menyadarkan si kufur nikmat untuk mensyukuri nikmat dari-Nya hingga sebutir nasi yang ia telan. Tapi terlambat, ia telah mati.

Terlambat karena kematian, benar – benar kerugian besar dan menakutkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: