Merelakan

Pernahkah kita beberapa kali mendapat ujian ini? Ujian tentang merelakan.

Dalam rutinitas kehidupan, seringkali manusia dihadapkan dengan beragam situasi yang mengharuskan ruh dan jasad untuk menghadirkan rasa kerelaan.

Ada orang tua yang harus merelakan anaknya merantau jauh. Ada yang harus merelakan hartanya dicuri. Ada yang harus merelakan pesawat yang akan dinaiki, lebih dulu take off. Ada yang harus merelakan hidup sederhana meski ia aslinya terlahir dalam keluarga kaya raya. Ada yang harus merelakan waktunya karena menunggu seseorang. Ada yang harus merelakan kesempatan demi kesempatan sebab prinsip hidup yang dia pegang. Ada yang harus merelakan anaknya yang meninggal lebih dulu dibanding dirinya. Ada yang harus merelakan uangnya raib sebab bisnis yang dijalankan bangkrut. Ada banyak sekali ujian tentang merelakan sesuatu. Dan ada banyak sekali jebakan untuk berkata, “Andai saja…..”, sebuah awalan kalimat yang lekat dengan sikap ketidakrelaan.

Dalam belajar untuk merelakan, saya selalu berusaha mengingat-ingat kalimat Umar Ibn Al-Khathab r.a,

“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.”

Bagaimana? Tenangkah kamu saat membaca kalimat yang pernah diucapkan Umar?. Kalimat yang hanya akan keluar dari lisan seseorang dengan keimanan tinggi. Kalimat yang akan keluar hanya dari orang-orang yang urusan dunia bukan dihatinya, sebab hatinya telah diisi dengan Allah.

Mungkin cara terbaik dalam belajar merelakan, adalah berarti belajar mengisi hati untuk Allah dan meletakkan kepentingan dunia ditangan bukan dihati, agar saat kehilangan nanti, kita mudah merelakan. Tidak berat sama sekali. Mudah saja.
#H-20Ramadhan

Advertisements

Yang Harus Selalu Ada

Tidak ada yang menjamin perjalanan kali ini akan aman dan nyaman. Bisa jadi akan banyak ditemui rintangan dan ujian yang belum pernah dialami sebelumnya.

Tidak ada yang menjamin kenyamanan dan kesuksesan akan hadir menyambut diakhir sana. Perjalanannya pun masih samar.

Tidak ada yang menjamin perjalanan kali ini akan mudah atau sulit, akan melelahkan atau ringan dan lancar-lancar saja, akan penuh dengan luka atau mulus-mulus saja. Ada banyak sekali kemungkinannya, dan itu semua, bisa terjadi bisa juga tidak.

Meski tidak ada jaminan. Meski sangat meresahkan. Semoga kita semua tetap menumbuhkan dan menggenggam erat-erat keimanan. Bagaimanapun perjalanannya nanti, semoga keteguhan iman selalu hadir. Sebab yang harus selalu ada memang keimanan, karena memang hanya keimanan yang akan selalu menjadi modal untuk terus berjuang melalui perjalanan. Sebagai pengingat, di perjalanan (singkat) ini, ujungnya adalah pengadilan, bukan kasur tempat istirahat, kasurnya baru akan ada setelah selamat dari pengadilan. Kamu yakin akan selamat?

H-21Ramadhan

Ketenangan

Menarik diri dari keramaian dan menenangkan diri itu selalu menyenangkan. Pergi sendirian ke berbagai tempat yg jauh dari keramaian kota selalu mengasyikkan. Jika sudah rindu sekali dengan ketenangan tapi belum bisa pergi ke desa, maka menyempatkan diri ke toko buku meskipun tidak membeli buku apapun adalah suatu keharusan. Jika dunia maya sudah terlalu ramai, menarik diri dengan uninstall aplikasi atau bahkan hapus akun adalah pilihan.

Berada di keramaian selalu melelahkan. Dan ketenangan pun kesunyian selalu yang dirindukan. Bagi banyak orang mungkin itu suatu hal yang aneh, tapi bagi dia, hidup apa adanya tanpa banyak gaya lebih menenangkan. Hah… Sepertinya dia sangat haus dengan ketenangan, padahal ia menjumpainya 5 kali dalam sehari, minimalnya. Aneh. Mungkin perjumpaan tiap harinya kurang berkualitas sehingga kurang memberi ketenangan.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. ” (Q. S. 13:29)

H-22Ramadhan

Aside

Kalau merasa berat, tenang saja, santai saja, dunia hanya sementara. Jangan pernah tertipu dengan segala isinya, Isi yang kadang membuat seseorang kelelahan mengejarnya, menangis ketika kehilangannya, bergembira saat mendapatkannya, marah saat ada yg merebutnya, atau suntuk saat buntu jalannya.

Hidup yang sangat singkat ini, terlalu sia-sia jika ditujukan ke dunia yang juga singkat. Karena perjalanan panjang yang sebenarnya akan dimulai setelah mati. Sangat panjang. Yang akan membutuhkan bekal yang memadai. Dan kita diberi waktu untuk menyiapkan bekal itu dalam waktu yang sempit. Panik ga sih? Jujur saya panik.

Sempitnya waktu ini, memaksa tiap orang untuk terus mengisi waktu dengan segala hal yang memberatkan bekal.

Bagaimana jika esok atau sebentar lagi malaikat maut menemui kita?

Sudahkah siap kita bertemu dengannya?

Siapkah kita melepas hal-hal dunia yang selama ini dikejar-kejar?

Jangan tertipu. Keep focus ya! Allah saja, Allah lagi, Allah terus.

#H-27Ramadhan #FokuskeAllah

Mengalahkan Ego

Mengalahkan ego, bagi saya, adalah proses panjang yang perlu dilatih berkali-kali sepanjang kita hidup. Mengalahkan ego, yang satu ini, memang butuh treatment ekstra khusus. Sebab, mengalahkan ego adalah perjuangan keras, adalah usaha pengendalian diri, adalah wujud kompromi dengan “kebaperan”, adalah segala usaha dalam mengontrol keburukan menuju kedewasaan diri.

Semisal saat menghadapi perdebatan dan diri merasa berada di pihak yang benar, Lalu perselisihan pun terjadi hingga menimbulkan konflik dengan orang lain. Yang seperti ini, menunjukkan seseorang belum mampu mengalahkan ego.

Atau semisal saat diri merasa di pihak yang benar dalam perselisihan. Lalu kamu enggan untuk meminta maaf karena merasa tidak salah dan tidak perlu meminta maaf. Yang seperti ini, masih dimenangkan oleh ego, dan kamu kalah dengannya.

Tentang mengalahkan ego, saya jadi teringat tulisan Ustadz Salim A.Fillah dalam salah satu bukunya, “Dalam Dekapan Ukhuwah”.

Dalam salah satu segi, menjaga harmoni memang berarti menghindari konflik. Adalah lebik baik diam jika bicara justru memperkeruh suasana. Lebih baik mengalah jika menang berarti membuat luka. Lebih baik mendahului minta maaf meski berada di pihak yang benar. Lebih baik memberi meski hak kita adalah menerima. Begitulah, dan seterusnya.

-Dalam Dekapan Ukhuwah, hal 222.-

Beliau menulis tentang menjaga harmoni, yang menurut saya erat sekali kaitannya dengan mengalahkan ego. Bahwa orang yang sedang berusaha menjaga harmoni ialah orang yang juga sedang menekan egonya.

#H-29Ramadhan #MengalahkanEgo

 

Aside

Ciri-Ciri Hamba Allah

Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “salam,”

dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri.

Dan orang-orang yang berkata,”Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, karena sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan kekal,”

sungguh, Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.

Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar,

dan orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat,

(yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,

kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Dan barang siapa bertobat dan mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.

Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya,

dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dnegan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidak bersikap sebagai orang yang tuli dan buta.

Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai peyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

Terjemah Q.S 25:63-74

#H-33Ramadhan #CiriHambaAllah

Menulis Surat Cinta #5 -Mudah Memilih

Seandainya bisa, aku akan terus menggenggam tangannya. Terus menggenggam kemanapun aku pergi atau ikut kemana saja ia pergi. Tapi tentu itu tidak mungkin, semisal ke kamar mandi atau kehendak lain yang Allah tentukan. Hari demi hari berlalu, aku yang sudah besar ini masih tetap ingin berada dekat dengannya. Bahagiaku terlalu sederhana, saat bisa melakukan apapun demi kebahagiaannya. Aku terlalu mudah melepaskan tiap kesempatan di depan mata bila konsekuensinya adalah jauh darinya. Aku sangat mudah memilih untuk menghabiskan waktu dengannya dibanding merantau mengejar impian. Aku terlalu mudah memilih jika selalu tentangnya. Aku akan selalu memilihnya, tanpa berpikir dua kali. Aku terlalu cinta, terlalu sayang. Aku tidak pernah peduli kata orang-orang tentangku. Lalu kini, tiap kulihat wajahnya yang menua, aku, dengan yakin akan merelakan segalanya, selama Allah meridhainya.

Lagi dan lagi, aku terlalu mudah memilih. Jika selalu tentangmu, Ma.

With Love,

Nurul

#H-34Ramadhan