Jangan pernah mengira bahwa yang selalu terlihat ceria tidak pernah menangis. Jangan pernah mengira bahwa yang selalu terlihat bahagia dan sering bercanda tidak pernah bersedih. Dia hanya terlalu pandai menyembunyikan kesedihannya. Jika kamu tahu bahwa tiap malam dia menangis, kamu pasti kaget. Kamu pasti heran.

Sumber Lemah Iman

Sumber turunnya iman cuma ada 2, satu ada maksiat yang dilakukan, dua ada yang haram masuk dalam tubuhnya.

Percaya deh, kalo ngerasa lagi lemah iman, males shalat, males baca quran, ngerasa hampa saat beribadah, pasti ada maksiat yang kita lakukan atau ada yang haram masuk ke tubuh kita. Entah lewat mulut, mata, telinga, tangan, kaki, atau bahkan hati.

lewat mulut dengan makanan minuman haram, ghibah, fitnah, gosip.

lewat mata dengan melihat yang haram.

lewat telinga dengan mendengar yang haram, seperti musik.

lewat tangan dan kaki dengan mengerjakan yang haram.

lewat hati dengan sifat dengki, ujub, riya, sombong, dan segala jenis perkataan buruk yang belum sampai ke lisan tapi masih dihati.

((yang nulis juga masih lemah imannya, makanya ditulis disini untuk mengingatkan diri. Semoga kita bisa terjaga dari maksiat dan segala yang haram. Semoga Allah jaga. Dan semoga Allah selalu jadi yang utama.))

Pastikan saat mereka datang, hati kita sedang terpaut kepada Allah.

Mereka siapa?

Mereka adalah kematian dan jodoh.  Yang entah siapa yang lebih dulu datang atau bisa jadi malah datang bersamaan.

Masa Kritis

Saya merasa kini sedang berada di masa kritis. Masa yang setiap gerak-geriknya sangat berpotensi dosa, mungkin dulu juga sama potensinya, tapi saya merasa, sekarang makin kentara.

Mungkin dulu berbicara akrab dengan lawan jenis adalah hal biasa menurut saya, karena saya kuliah di fakultas teknik. Tapi kini tidak. Apalagi bicara dengan yang masih single. Saya merasa terlalu banyak jurang dosa disini. Karena dulu, saya dan teman-teman masih berstatus anak sekolahan yang sibuk belajar. Namun kini statusnya berubah, sebut saja mencari pendamping hidup. Maka pembicaraan yang ga penting-penting amat sangat saya hindari. Agar kata “cie ciee” tidak saya dengar. Kesel bawaannya kalo denger kata itu.

Mungkin dulu memberikan senyum ke semua orang yang saya temui adalah hal biasa. Senyum termasuk sedekah kan?. Tapi kini rasanya saya perlu mempertimbangkan lagi kepada siapa-siapa saja. Karena dulu saya merasa cuma anak kuliah yang sibuk belajar. Tapi kini, saya harus mengakui kalau saya juga seorang perempuan biasa, yang mungkin telah banyak menyebar fitnah tanpa saya sadari. Bukan, saya bukan merasa cantik. Saya hanya merasa malu bila menyepelekan perihal agama. Karena perintah menjaga pandangan bukan hanya untuk para perempuan cantik tapi untuk tiap perempuan yang beriman.

Ada begitu banyak cerita dari saudari-saudari saya tentang kehidupan pasca kampus mereka. Tentang beberapa laki-laki yang mendekatinya dengan cara-cara yang tidak pantas hingga terkesan meneror. Maka saya mulai paham mengapa banyak perempuan yang ingin segera menikah. Bukan, ini bukan karena mereka lelah dengan kehidupan hingga ingin menikah agar kelak suami mencukupi segala kebutuhan mereka. Ini lebih kepada wujud ketakutan mereka. Takut-takut dirinya adalah sumber dosa-dosa orang lain. Takut, jika dirinya ternyata menjadi penyebab sulitnya laki-laki menjaga pandangan. Takut, jika status singlenya menjadi fitnah bagi laki-laki disekelilingnya.

Di masa-masa seperti ini… saya merasa satu-satunya tempat berlindung hanya pada-Nya. Semoga Allah selalu menjaga kita dari segala yang haram dan mengarahkan kita hanya kepada yang halal, semoga.

 

Ujian Terberat

Ujian terberat hanya akan dialami oleh orang-orang yang baik agamanya.

Seperti Rasulullah yang disebut gila, dilempari kotoran unta dan batu, dicekik, diracun, dan disasar untuk dibunuh. Seperti Nabi Yusuf yang dimasukkan ke dalam sumur, dijual sebagai budak, difitnah, hingga dipenjara bertahun-tahun. Seperti Nabi Ibrahim yang dilempar kedalam api, diminta meninggalkan anak dan istrinya di tanah yang gersang dan terik, hingga diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya sendiri. Seperti Nabi Ayyub yang diambil kekayaannya, dimatikan seluruh anaknya, dan ditimpa penyakit yang tidak pernah dialami oleh orang-orang sebelumnya dan orang-orang sesudahnya. Seperti Nabi Yunus yang dimasukkan kedalam perut ikan paus, yang merasakan gelap dalam gelap. Berlapis-lapis kegelapan tanpa makanan hingga kelaparan.

“Ujian terberat adalah ujian para nabi kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi…”

Maka berbahagialah kamu yang sedang menjalani ujian. Apapun bentuknya, itu adalah cara agar kamu dan Allah tetap dekat. Agar kamu selalu ingat dengan-Nya. Agar kamu selalu berdoa pada-Nya. karena ada kalimat indah dari Rasulullah,

Sesungguhnya balasan terbesar dari ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridho, maka Allah pun ridho. Dan barangsiapa murka (tidak suka pada cobaan tersebut, pen), maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi no. 2396)

Tuh kan, Allah tu cinta sama kamu, iya kamu. 🙂

Cerita Si X dan Y – Iman yang Meragukan

X: Gw mau resign nih.

Y: hah, kenapa ? Bukannya gaji lo udah gede disana. Lingkungannya nyaman juga kan?

X: iya tapi gw galau karena tau kalau kerjaan gw ini haram.

Y: terus anak istri lo mau dikasih makan apa? Udahlah ga usah ekstrim banget. Banyak juga kan orang islam yang punya kerjaan kayak lo.


“Terus anak istri lo mau dikasih makan apa?”

Pertanyaan yang mengerikan untuk didengar bagi saya.

Pertanyaan ini langsung membuat saya lemas karena ternyata kita masih sombong dengan nikmat yang Allah titipkan. Padahal tiap helai pakaian, tiap suapan makanan yang tertelan, tiap senti ketebalan dinding rumah, tiap jengkal barang-barang di rumah, tiap basuhan air di badan, tiap langkah kaki, tiap nominal tabungan di bank, tiap investasi bentuk emas, rumah, tanah, bisnis, dan lain sebagainya adalah Milik Allah.

Pertanyaan diatas benar-benar mengerikan. Ternyata sesombong itu kita dalam berpikir. Serendah itukah keyakinan kita pada kemampuan Allah?. Ternyata kita masih sering lupa bahwa Allah Yang Maha Memelihara hamba-Nya. Ternyata kita masih sering lupa bahwa kasih sayang-Nya melebihi kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya.

Ternyata kita masih sering meragukan kemampuan Allah. Ternyata Iman kita masih meragukan.

“Allah tidak pernah meninggalkan, kita yang sering menjauh.”

Alhamdulillah jum’at ini berkah sekali. Mendapat tulisan yang menampar berkali-kali. Jadi disadarkan kembali bahwa terlena dengan kenyamanan hidup itu bencana. Musibah. Level bahaya status AWAS. Karena terlalu halus sampai tidak terasa. Baru sadar pas malaikat datang.

 

“Perhatikan bagaimana sikapnya, yang pertama kepada Allah SWT, yang kedua kepada Ibunya, yang ketiga kepada rekan sebayanya, dan yang keempat kepada anak-anak kecil.”

Orang ini Sederhana Sekali

Bismillah,

 Ada perasaan berbeda setiap saya berada diantara orang-orang ini.

Orang-orang ini banyak menghabiskan waktu dan tenaganya untuk orang lain disekitarnya. Kepala mereka selalu diisi dengan berbagai masalah orang lain yang ingin mereka bantu pecahkan solusinya. Bagi mereka, hidup adalah tentang kebermanfaatan. Tidak bermanfaat maka sama dengan mati. Ada yang membuat gerakan sosial, ada yang menggagas sociopreneur, ada yang mengajar tanpa digaji, ada yang membuat platform kebaikan, ada yang membuka lapak dagang online dengan 100% keuntungan disedekahkan, ada yang mengabdi ke pelosok negeri untuk menebarkan ilmunya.

Ada perasaan bahagia yang meluap-luap tiap berada disekeliling mereka. Bahagia karena di mata mereka kebahagiaan bukan terletak pada rumah mewah, mobil pribadi, tabungan banyak, investasi dimana-mana, atau gelar panjang disisi nama.

Sederhana sekali. Mereka bahagia karena Allah menjadi tujuannya. Karena menjadi manusia yang bermanfaat adalah cara mereka mendekat pada Rabbnya.

Sederhana sekali. Bukan uang, bukan kedudukan, bukan pujian manusia, bukan gelar panjang mengiringi namanya. Yang mereka tuju hanya ridha Tuhannya.

“Semoga Allah ridha”, hanya itu alasan mereka. Bukan yang lain, karena berharap pada yang lain hanya menghasilkan kekecewaan. Karena berharap pada-Nya tidak pernah mengecewakan.

Alhamdulillah, semoga ridha Allah selalu mengiringi perjalanan hidup teman-teman semua. Tetaplah sederhana, karena kebaikan kalian makin indah dalam kesederhanaan.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑